Skip to main content

RELASI AGAMA DAN SAINS

MAKALAH RELASI AGAMA DAN SAINS 
TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT 

Image result for logo uin malang

DISUSUN OLEH
SAFRI AGUS SALIM .DKK 

FAKULTAS PSIKOLOGI 
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2017

LATAR BELAKANG
            Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil aplikasi sains tampak jelas memberikan kesenangan bagi kehidupan lahiriah manusia secara luas. Dan manusia telah mampu mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara besar-besaran. Yang menjadi permasalahan adalah pesatnya kemajuan itu sering diikuti dengan merosotnya kehidupan beragama. Sah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannyaains dan agama merupakan dua ilmu prespektif yang berbanding terbalik. Sains adalahkepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. (Wikipedia, 2017) Adapun agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.(Wikipedia, 2017)
            Sepanjang sejarah manusia, pembicaraan mengenai sains dan agama tidak pernah berhenti. Agama dan sains merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sains dan agama merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, namun juga terbangunnya manusia yang beretika, bermoral ,dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup . Sedangkan sains dengan perkembangannya telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan gemilang. Dari asal-muasalnya memang terdapat perbedaan antara agama dan sains. Agama berasal dari wahyu yang diturunkan Tuhan melalui nabi dan rasul, sementara sains (ilmu) merupakan proses perenungan atau olah pikir dan aktivitas berpikir otak manusia.
A.    Rumusan Masalah :
1.      Apa pengertian dari agama dan sains?
2.      Bagaimana hubungan antara agama dan sains menurut analisa filosofis ?
3.      Bagaimana pandangan hubungan agama dan sains menurut ilmuwan ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sains
Sains adalah salah satu corak pengetahuan ialah pengetahuan yang ilmiah, yang lazim disebut dengan ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu, yang ekwivalen artinya dengan science dalam Bahasa Inggris dan Perancis, Wissenchaft (Jerman) dan Wetenschap (Belanda). Sebagaimana juga science berasal dari kata scio, scire (Bahasa Latin) yang berarti tahu begitupun ilmu berasal dari kata alima (Bahasa Arab) yang juga berarti tahu jadi, baik ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri- ciri, tanda- tanda, dan syarat- syarat yang khas.[1]
Ilmu adalah pengetahuan yang pasti, sistematis, metodik, ilmiah dan mencakup kebenaran umum mengenai obyek studi. Sedangkan pengetahuan adalah sesuatu yang menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari- hari melalui pengalaman (empiris), kesadaran (intuisi), informasi dan sebagainya. Jadi pengetahuan memiliki cangkupan yang luas daripada ilmu.[2]
Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab- akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap pengaruh yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N. Kerlinger dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sains berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkanhubungan sebab akibat. Sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, hal- hal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Kenyataan inilah yang menyebabkan ada orang menyangka bahwa sains itu netral.[3]
Definisi ilmu Arthur Thomson. Athur Thomson mendefinisikan ilmu itu “pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah sesederhana mungkin”. Ilmu menggali pengetahuan dari fakta-fakta danmerumuskan pengetahuan itu dalam bentuk teori atau hukum. Karena pengetahun itu sesuai dengan faktanya, maka pengetahuan yang digali dan yang dinyatakannya itu adalah benar. Ilmu = kerja sama otak-tangan. Jelaslah betapa inherennya (berhubungan ketat) ilmu dengan fakta, yaitu fakta yang dialami. Fakta yang belum ditafsirkan jadi bersifat murni, disebut data. Data inilah yang dihimpun oleh riset dan atau data eksperimen. Sedangkan pelukisan, penjelasannya, dan kesimpulannya jadi tugas pikiran.Riset dan eksperimen adalah kerja tangan. Berpikir adalah kerja otak, karena itu ilmu merupakan hasil kerja sama otak dan tangan. Pengetahuan, hasil dari kerja panca indra, sedangkan filsafat hasil dari kerja berfikir saja. Jadi, ilmu dapat disebut ilmu pengetahuan.[4]
B.     Pengertian Agama
Menurut harafiah agama berasal dari Bahasa Sansekerta dari kata a dan gama. A berarti ‘tidak’ dan gama berarti ‘kacau’. Jadi, kata agama diartikan tidak kacau, tidak semerawut, hidup menjadi lurus dan benar.Pengertian agama menunjukan kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari keridhoan tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa yaitu tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluru alam beserta isinya. Dalam penjelasan selanjutnya, agama dibedakan dengan agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada kesan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntutan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan tuhan, dan tidak ada nabi.[5]
Agama merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia.Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama. Sedangkan kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalambentuk  ibadah-ibadah.[6]








BAB III
PERMASALAHAN
A.    Hubungan Agama dan Sains
Manusia tidak lepas dari para pencari Tuhan. Maka dari itu banyak filsuf yang muncul dan terlibat dalam diskursus Ketuhanan (Teologi), wacana tentang asal- usul alam semesta (Ontologi), dan ilmu pengetahuan (Epistimologi). Dalam proses pencarian Tuhan, manusia merasakan lika-liku. Ada banyak manusia yang sudah merasakan adanya Tuhan, dan sebagian lagi ada yang terlena dalam igauan yang tidak jelas, dan memaksakan diri menjangkau esensi Tuhan yang sesungguhnya.Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme sehingga mereka terjebak dalam perangkap skeptisisme, bahkan ateisme.
Menurut Aljisr (2001: 470) dalam konteks agama, sikap itu tentu saja kontra produktif, sekaligus kontra produktif dengan semangat keagamaan yang selalu memerintahkan manusia untuk memikirkan hal-hal inderawi dan rasional ketika berbicara tentang eksistensi bukan esensi Tuhan sebagai pencipta(al-khalik). Namun demikian konstribusi Filsafat dan Ilmu dalam mengantarkan keimanan kepada Tuhan. Bukannya tidak ada, dalam batas-batas tertentu, Filsafat dan ilmu bisa, mendukung berbagai bukti kebenaran eksistensi dan kekuasaan Tuhan yang telah banyak diungkapkan oleh agama.[7]




B.                 Hubungan Agama dan Sains menurut analisa Filosofis
Agama dan sains kali ini akan dibahasan dengan pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
1.)    Pendekatan ontologism
Pendekatan ini adalah pendekatan yang membahas tentang yang ada atau disebut juga hakikat sesuatu. Ontology sendiri diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang yang ada dan tidak terikat pada perwujudan tertentu, yang bersifat universal dan menampilkan pemikiran semesta. Ontology perupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan pendekatan ini, maka agama dan sains dilihat dari sisi hakekat terdalam yang ada di dalamnya.
Secara ontologism, hakikat agama adalah sesuatu yang tidak Nampak atau abstrak. Bila agama dilihat dari aspek yang Nampak, ia akan berwujud sebagai symbol ritual yang dilakukan oleh umat beragama. Sementara itu, makna abstrak dari agama yaitu dapat dipahami dari sisi konseptual, seperti dalam perspektif teologis. Agama dapat diartikan sebagai kepercayaan terhadap tuhan yang selalu hidup, yaitu kepada Jiwa dan Kehendak Ilahi, yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.[8]
Disisi lain, sains yang secara etimologis berasal dari scire (Latin), berarti mengetahui, keadaan atau fakta mengetahui atau pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan. Secara ontologis, sains seperti ditulis Kertanegara merupakan pengetahuan sistematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.


2. Pendekatan Epistemologis.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang teori ilmu atau teori kebenaran tentang pengetahuan, dimana kebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang bersifat kondisional, sejauh medianya demikian, sampelnya itu, disainnya demikian dan seterusnya, sehingga kebenaran yang diperoleh disebut dengan kebenaran epistemologis.[9]
Secara epistemis, agama ternyata sulit didefinisikan, karena agama tidak bisa dibedakan dengan psikopatologi, juga tidak bisa dibedakan dari pendekatan lainnya dalam menghadapi ultimate concern. Sebab, orang ateis, penganut Islam maupun pemeluk kebatinan, semua menjawab masalah eksistensial ini.
Sementara itu, dalam tataran sosial, secara fungsional agama berupa apa saja yang menjalankan fungsi agama di masyarakat dan berjalannya kelompok dalam kelompok agama, sedang secara substansial merupakan perumusan ajaran agama secara resmi; atau berupa konsensus kelompok tentang kepercayaan dan praktek, sikap di hadapan publik yang diambil gereja, sinagog, mazhab atau suatu sekte.[10]
3. Pendekatan Aksiologis.
Cabang filsafat yang membahas tentang teori nilai adalah aksiologis, sehingga perspektif aksiologis ini berupaya melihat nilai agama dan lain yang berbeda. Agama menurut pandangan Kertanegara mampu memberikan penjelasan secara rinci tentang berbagai hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, sedemikian rupa agama juga memberikan makna yang lebih tinggi dan saling melengkapi terhadap pandangan-pandangan saintiffik dan filosofis.[11]
Peacocke dalam bukunya Theology for a Scientific Age, melalui perspektif critical realism, berpandangan bahwa tujuan sains adalah untuk melukiskan realita, namun pelukisan tersebut mengizinkan adanya perubahan secara bertahap di dalam penerimaan kebenaran teori-teori ilmiah. Dengan bahasa lain sains berusaha menggambarkan realitas ini dengan rendah hati, karena harus selalu siap menerima kritikan serta direvisi oleh teori lain yang lebih maju dan berkembang.
C.                Titik Singgung Agama dan Sains.
Dalam buku Intimations of Reality, Peacock mengambarkan sains dan agama sebagai suatu entitas yang memiliki persamaan dan perbedaan, dan relasi diantara keduanya terjadi hanya dalam tataran intelektual. Hal ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa manusia pada saat ini sedang menjalani hidupnya dalam konteks lain. Artinya, segala pola pikir dan tingkah laku manusia dalam hidupnya telah dikuasi oleh cara pandang lain terhadap dunia.[12]
Kendatipun demikian, pergulatan antara agama dan sains telah mewarnai sejarah kehidupan manusia. Kasus eksekusi Gereja atas Galileo pada abad 19 dan perdebatan panjang antara pendukung teori revolosi dan teori penciptaan menjadi bukti nyata betapa konflik yang saling menegasikan telah mewarnai hubungan antara agama dan sains. Untuk menghindari konflik antara keduanya, banyak kalangan sejak tahun 1990-an telah mencari model hubungan yang paling sesuai. Gregory R. Peterson mencatat beberapa lembaga, penerbitan, seminar dan konferensi yang diidentifikasi sebagai upaya membangun model hubungan antara agama dan sains yang ideal dan ramai di pasaran, seperti tulisan Ian G. Barbour lewat karyanya, Religion in an Age of Science (1990), Nacey Murphy, Theology in the Age of Scientific Reasoning (1990), Philip Hefner, The Human Factor (1993), Arthur Peacock, Theology for a Scientific Age (1993), dan lainnya. Secara individu tokoh lain adalah John F. Hougt (professor teologi di universitas Georgetown) dan Willem B. Dress (professor di bidang filsafat sains dan teknologi dalam perspektif Protestan Liberal di Universitas Twente Belanda).
Semangat mengakurkan antara agama dan sains ini telah memunculkan jurnal baru Zygon yang telah banyak memuat artikel diseputar agama dan sains. Begitu pula di tahun 1998, The Center for Theology and The Natural Science menyelenggarakan seminar dengan tema “Science and The Spiritual Quest”, yang menghasilkan majalah Newsweek yang terkenal dengan sebutan “Science Finds God”. Begitu pula Kelampok Templeton Foundation dengan kekuatannya telah mampu menghimpun dana dalam jumlah besar untuk mensponsori berbagai seminar, penelitian dan penerbitan dalam bidang agama dan sains.
1. Model-Model Hubungan antara Agama dan Sains
Sumber tulisan yang berusaha mendiskripsikan tipologi hubungan antara agama dan sains selain Barbour, Haught dan Dress, adalah tulisan Arthur Peacocke, The Science and Theology in 20 Century (1981), Ted Oeters, Theology and Natural Science (1992) dan Robert Russell, The Relevance of Tallish for the Theology and Science Dialogue (2001).
Model atau tipologi hubungan antara agama dan sains tersebut menurut Barbour adalah sebagai berikut:

a.       Model Konflik.
Model ini digunakan oleh tiga tokoh utama, yaitu Barbour, Haught dan Drees. Model ini berpendirian bahwa agama dan sains adalah dua hal yang tidak sekedar berbeda tapi sepenuhnya bertentangan. Karena itu, seseorang dalam waktu bersamaan tidak mungkin dapat mendukung teori sains dan memegang keyakinan agama, karena agama tidak bisa membuktikan kepercayaan dan pandangannya secara jelas (straight forword), sedang sains mampu. Sebagaimana halnya agama mempercayai Tuhan tidak perlu menunjukkan bukti kongkrit keberadaannya, sebaliknya sains manuntut pembuktian semua hipotesis dan teori dengan kenyataan. Keduanya dianut oleh kelompok biblical literalism, dan kelompok scientific materialis.
b.      Model Independen.
Model ini berpendirian bahwa agama dan sains memiliki persoalan, wilayah dan metode yang berbeda, dan masing-masing memiliki kebenarannya sendiri sehingga tidak perlu ada hubungan, kerjasama atau konflik antara keduanya. Keduanya harus dipisahkan (compartmentalized) untuk bekerja dalam wilayahnya masing-masing. Argumentasi model ini diantaranya dikemukakan oleh Langdan Gilhey, bahwa sains berusaha menjelaskan data obyektif, umum, dan berulang-ulang, sementara agama berbicara tentang masalah eksistensi tatanan dan keindahan dunia dan pengalaman seseorang seperti pengampunan, makna, kepercayaan, keelamatan dan lain sebagainya. Tujuan model ini adalah untuk menghindari konflik antara keduanya dan sebagai konsekuensi munculnya ilmu pengetahuan baru (new knowledge) seperti penjelasan biologis atas organisme organ.

c.       Model Dialog (contact).
Model ini bermaksud mencari persamaan atau perbandingan secara metodis dan konseptual antara agama dan sains, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan antara keduanya. Upaya ini dilakukan dengan cara mencari konsep dalam agama yang analog, serupa atau sebanding dengan konsep dalam sains atau sebaliknya. Suatu model yang berbeda dengan model kedua yang menekankan perbedaan ansich. Menurut Barbour, kesamaan antara keduanya bisa terjadi dalam dua hal, kesamaan metodologis dan kesamaan konsep. Kesamaan metodologis terjadi, misalnya, dalam hal sains tidak sepenuhnya obyektif sebagaimana agama tidak sepenuhnya subyektif. Secara metodologis, tidak ada perbedaan yang absolut antara agama dan sains, karena data ilmiah sebagai dasar sain yang dianggap sebagai wujud obyektifitas, sebenarnya juga melibatkan unsure- unsure subyektifitas. Lebih dari itu, subyektifitas sains terjadi pada asumsi teoritis yang digunakan dalam proses seleksi, penafsiran data dan pelaporan. Barbour bahkan menambahkan bahwa persamaan metodologis ini terletak pada prinsip hubungan antara teori dan pengalaman, yang meminjam bahasa Polkinghorne: each is corrigible, having to relate theory to experience, and each is essentially concerned with entities whose unpictureable reality is more subtle than that of naïve objectivity. Tujuan model ini adalah agar agama dan sains dapat saling memperluas wawasan dan pengetahuan tentang alam, sebagaimana dijelaskan oleh Haught: The contact approach looks for an open-ended conversation between scientist and theologians. The term contact implies coming together without necessary fusing. It allows for interaction, dialogue, and mutual impact but forbids both conflation and segregation. It insist on preserving differences, but also cherishes relationship.
d.      Model Integrasi (Confirmation)
Alternatif lain hubungan antara agama dan sains yang dipandang paling ideal adalah model integrasi. Model ini berusaha mencari titik temu pada masalah-masalah yang dianggap bertentangan antara keduanya. Contoh model ini adalah pada bidang Natural Theology yang menyatakan bahwa bukti adanya desain pada alam semesta membuktikan adanya Tuhan, sementara Drees menyodorkan sample tentang konsep teologi evolusi ala Piere Teilhard da Chardin dan filsafat proses Alfred N. Whitehead yang dianggap telah menghasilkan konsep metafisika yang inklusif. Pada model ini posisi sains adalah memberikan konfirmasi (memperkuat atau mendukung) keyakinan tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta,
Kendati Haught mengingatkan agar agamawan tidak membiarkan agama terlibat (intrude) dalam kerja-kerja aktual sains (the actual work of science). Lebih dari itu, posisi agama menurut Haught lebih sebagai akar epistemologis bagi penemuan ilmiah. Dengan demikian agama memberikan dasar bagi keyakinan saintis akan adanya rasionalitas dalam sains.[13]




[1] H. Endang Saifuddin Anshari, M. A. Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya: 1993,p. 47
[2] Drs. A. Susanto, M.Pd. Filsafat Ilmu, Jakarta: 2010,p. 122-123
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir Filsafat Ilmu, Bandung: 2010,p. 24- 25
[4] Diadopsi dari junal oleh Nuraini Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Ponorogo,p 7- 8
[5] Drs. A. Susanto, M.Pd. Filsafat Ilmu, Jakarta: 2010,p. 125
[6] Diadopsi dari jurnal oleh Nuraini Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Ponorogo,p 4
[7]Drs. A, Susanto, M. Pd. Filsafat Ilmu. Jakarta: 2010,p 128- 129
[8] Rakhmat, D. (2003). Psikologi Agama. Bandung: Mizan.

[9] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu,63 Dalam jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains
[10] Rakhmat, Psikologi Agama, 42-43. Dalam jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains
[11] Mulyadi, Ketika Sains, 74. Dalam jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains
[12] Arthur Peacocke, Path From Science toward God,(Oxford: One world, 2002), 12. Dalam jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains

[13]Jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains, Zainal Arifin

Comments

Popular posts from this blog

PEMIKIRAN TOKOH FILSAFAT BARAT

MAKALAH TOKOH PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT                                                          DISUSUN OLEH  Lydya Utamarani Putri (17410170) Maulidah Syarifah (17410175) Mauliyatul Mukarromah (17410186) Rizky Ayaturahman (17410193) Musyaffa Nur Muhammad (17010185) FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2017 KATA PENGANTAR           Alhamdulillahirobbil’alamin patut kita panjatkan puji syukur kita kehadirat allah SWT. yang mana karenanya kami bisa menyelesaikan tugas makalah filsafat yang berjudul “ pemikiran-pemikiran tokoh barat tentang filsafat “           Sholawat dan salam juga patut kita curahkan kepada baginda nabi muhammad SAW. Karenanya kita bisa ...

Makalah Manajemen Strategik

BAB I PENDAHULUAN 1.1               LatarBelakang Dalam dunia bisnis pasti terdapat berbagai permasalahan baik permasalahan yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan. Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, manajer dituntut untuk menciptakan suatu strategi yang tepat agar mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Para manajer juga harus bisa mengenali peluang pasar, mengambil tindakan yang diperlukan untuk membenarkan kekurangan perusahaan, atau memformulasikan strategi baru dan diharapkan mampu menjadi lebih efektif untuk menjadi pesaing yang kuat. 1 1.2            RumusanMasalah 1.     Apa pengertian manajemen strategik? 2.     Apa pentingnya manajemen strategik? 3.     Bagaimana proses manajemen strategik? 4.     Apa saja jenis-jenis manajemen st...

Hello ^^

Assalamu'alaikum.. Hello everyone.. 😄 Let me introduce myself^^ I'm Lydya Utamarani Putri, you can call me Dya. I live in Malang City (now). I'm a student from faculty of psychology at Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of  Malang (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). That's why I live in Malang. My hometown in Bekasi City. When as a new student I am staying in Ma'had Sunan Ampel Al-Aly especially in Fatimah Az Zahra Dormitory. Hm, But just for 1 year in the dorm. Not just the common dormitory, In my dormitory we have more islamic activities so useful for our. If you wanna know what I am doing when I live in here... There are...   Shobahul Lughoh   What's that? Shobahul lughoh is the activity for learning language. In my university we should be able to speak arabic and english. Shobahul Lughoh ( in Arabic : Shobah = Morning, Lughoh = Language ). Shobahul Lughoh start from Ba'da Subuh until 6 am (workday). InsyaAllah like that.. ...