MAKALAH RELASI AGAMA DAN SAINS
TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT

DISUSUN OLEH
SAFRI AGUS SALIM .DKK
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
2017
LATAR BELAKANG
Pesatnya
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil aplikasi sains tampak
jelas memberikan kesenangan bagi kehidupan lahiriah manusia secara luas. Dan
manusia telah mampu mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara
besar-besaran. Yang menjadi permasalahan adalah pesatnya kemajuan itu sering
diikuti dengan merosotnya kehidupan beragama. Sah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannyaains dan
agama merupakan dua ilmu prespektif yang berbanding terbalik. Sains adalahkepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. (Wikipedia, 2017) Adapun agama adalah
sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan
dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Banyak
agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk
menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam
semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang
memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut
beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.(Wikipedia, 2017)
Sepanjang
sejarah manusia, pembicaraan mengenai sains dan agama tidak pernah berhenti.
Agama dan sains merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sains dan
agama merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan
umat manusia. Keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan
lahirnya agama tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, namun
juga terbangunnya manusia yang beretika, bermoral ,dan beradab yang menjadi
pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup . Sedangkan sains dengan
perkembangannya telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan
gemilang. Dari asal-muasalnya memang terdapat perbedaan antara agama dan sains.
Agama berasal dari wahyu yang diturunkan Tuhan melalui nabi dan rasul,
sementara sains (ilmu) merupakan proses perenungan atau olah pikir dan
aktivitas berpikir otak manusia.
A.
Rumusan Masalah :
1.
Apa pengertian dari agama dan sains?
2.
Bagaimana hubungan antara agama dan sains menurut analisa filosofis ?
3.
Bagaimana pandangan hubungan agama dan sains menurut ilmuwan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Sains
Sains adalah salah satu corak pengetahuan ialah pengetahuan yang
ilmiah, yang lazim disebut dengan ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu, yang
ekwivalen artinya dengan science dalam Bahasa Inggris dan Perancis, Wissenchaft
(Jerman) dan Wetenschap (Belanda). Sebagaimana juga science berasal dari kata scio,
scire (Bahasa Latin) yang berarti tahu begitupun ilmu berasal dari kata alima
(Bahasa Arab) yang juga berarti tahu jadi, baik ilmu maupun science secara
etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis ilmu dan science itu
semacam pengetahuan yang mempunyai ciri- ciri, tanda- tanda, dan syarat- syarat
yang khas.[1]
Ilmu adalah pengetahuan yang pasti, sistematis, metodik, ilmiah dan
mencakup kebenaran umum mengenai obyek studi. Sedangkan pengetahuan adalah
sesuatu yang menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa
atau sehari- hari melalui pengalaman (empiris), kesadaran (intuisi), informasi
dan sebagainya. Jadi pengetahuan memiliki cangkupan yang luas daripada ilmu.[2]
Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab-
akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap pengaruh yang lain. Asumsi dasar
sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N. Kerlinger
dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu
disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan
rasional. Ilmu atau sains berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkanhubungan
sebab akibat. Sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, hal- hal atau
haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan
nilai benar atau salah. Kenyataan inilah yang menyebabkan ada orang menyangka
bahwa sains itu netral.[3]
Definisi ilmu Arthur Thomson. Athur Thomson mendefinisikan ilmu itu
“pelukisan fakta-fakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah
sesederhana mungkin”. Ilmu menggali pengetahuan dari fakta-fakta danmerumuskan
pengetahuan itu dalam bentuk teori atau hukum. Karena pengetahun itu sesuai
dengan faktanya, maka pengetahuan yang digali dan yang dinyatakannya itu adalah
benar. Ilmu = kerja sama otak-tangan. Jelaslah betapa inherennya (berhubungan
ketat) ilmu dengan fakta, yaitu fakta yang dialami. Fakta yang belum
ditafsirkan jadi bersifat murni, disebut data. Data inilah yang dihimpun oleh
riset dan atau data eksperimen. Sedangkan pelukisan, penjelasannya, dan
kesimpulannya jadi tugas pikiran.Riset dan eksperimen adalah kerja tangan.
Berpikir adalah kerja otak, karena itu ilmu merupakan hasil kerja sama otak dan
tangan. Pengetahuan, hasil dari kerja panca indra, sedangkan filsafat hasil
dari kerja berfikir saja. Jadi, ilmu dapat disebut ilmu pengetahuan.[4]
B.
Pengertian
Agama
Menurut harafiah agama berasal dari Bahasa Sansekerta dari kata a
dan gama. A berarti ‘tidak’ dan gama berarti ‘kacau’. Jadi, kata agama
diartikan tidak kacau, tidak semerawut, hidup menjadi lurus dan
benar.Pengertian agama menunjukan kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk
mencari keridhoan tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa
yaitu tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur
seluru alam beserta isinya. Dalam penjelasan selanjutnya, agama dibedakan
dengan agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada
kesan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada
kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntutan tentang baik dan buruk.
Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan tuhan,
dan tidak ada nabi.[5]
Agama merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua
cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi
berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang
mempunyai sifat mengikat bagi manusia.Seorang yang beragama tetap terikat
dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama. Sedangkan kata
“agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang
berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia.
Ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama,
selain bagi orang-orang tertentu,
selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan
religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus”
dan hubungan itu direalisasikan dalambentuk
ibadah-ibadah.[6]
BAB
III
PERMASALAHAN
A.
Hubungan Agama dan Sains
Manusia tidak lepas dari para pencari Tuhan. Maka dari itu banyak
filsuf yang muncul dan terlibat dalam diskursus Ketuhanan (Teologi), wacana
tentang asal- usul alam semesta (Ontologi), dan ilmu pengetahuan
(Epistimologi). Dalam proses pencarian Tuhan, manusia merasakan lika-liku. Ada
banyak manusia yang sudah merasakan adanya Tuhan, dan sebagian lagi ada yang
terlena dalam igauan yang tidak jelas, dan memaksakan diri menjangkau esensi
Tuhan yang sesungguhnya.Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme
sehingga mereka terjebak dalam perangkap skeptisisme, bahkan ateisme.
Menurut Aljisr (2001: 470) dalam konteks agama, sikap itu tentu saja
kontra produktif, sekaligus kontra produktif dengan semangat keagamaan yang
selalu memerintahkan manusia untuk memikirkan hal-hal inderawi dan rasional
ketika berbicara tentang eksistensi bukan esensi Tuhan sebagai
pencipta(al-khalik). Namun demikian konstribusi Filsafat dan Ilmu dalam
mengantarkan keimanan kepada Tuhan. Bukannya tidak ada, dalam batas-batas tertentu,
Filsafat dan ilmu bisa, mendukung berbagai bukti kebenaran eksistensi dan
kekuasaan Tuhan yang telah banyak diungkapkan oleh agama.[7]
B.
Hubungan Agama dan Sains menurut analisa Filosofis
Agama dan sains kali ini akan dibahasan
dengan pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
1.)
Pendekatan ontologism
Pendekatan ini adalah pendekatan yang membahas tentang
yang ada atau disebut juga hakikat sesuatu. Ontology sendiri diartikan sebagai
ilmu yang membahas tentang yang ada dan tidak terikat pada perwujudan tertentu,
yang bersifat universal dan menampilkan pemikiran semesta. Ontology perupaya
mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan pendekatan ini,
maka agama dan sains dilihat dari sisi hakekat terdalam yang ada di dalamnya.
Secara ontologism, hakikat agama adalah sesuatu yang
tidak Nampak atau abstrak. Bila agama dilihat dari aspek yang Nampak, ia akan
berwujud sebagai symbol ritual yang dilakukan oleh umat beragama. Sementara
itu, makna abstrak dari agama yaitu dapat dipahami dari sisi konseptual,
seperti dalam perspektif teologis. Agama dapat diartikan sebagai kepercayaan
terhadap tuhan yang selalu hidup, yaitu kepada Jiwa dan Kehendak Ilahi, yang
mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.[8]
Disisi lain, sains yang
secara etimologis berasal dari scire (Latin), berarti mengetahui, keadaan atau
fakta mengetahui atau pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi
atau kepercayaan. Secara ontologis, sains seperti ditulis Kertanegara merupakan
pengetahuan sistematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan yang
dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.
2. Pendekatan
Epistemologis.
Epistemologi adalah
cabang filsafat yang membahas tentang teori ilmu atau teori kebenaran tentang
pengetahuan, dimana kebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang
bersifat kondisional, sejauh medianya demikian, sampelnya itu, disainnya
demikian dan seterusnya, sehingga kebenaran yang diperoleh disebut dengan
kebenaran epistemologis.[9]
Secara epistemis, agama
ternyata sulit didefinisikan, karena agama tidak bisa dibedakan dengan
psikopatologi, juga tidak bisa dibedakan dari pendekatan lainnya dalam
menghadapi ultimate concern. Sebab, orang ateis, penganut Islam maupun pemeluk
kebatinan, semua menjawab masalah eksistensial ini.
Sementara itu, dalam
tataran sosial, secara fungsional agama berupa apa saja yang menjalankan fungsi
agama di masyarakat dan berjalannya kelompok dalam kelompok agama, sedang
secara substansial merupakan perumusan ajaran agama secara resmi; atau berupa
konsensus kelompok tentang kepercayaan dan praktek, sikap di hadapan publik
yang diambil gereja, sinagog, mazhab atau suatu sekte.[10]
3. Pendekatan
Aksiologis.
Cabang filsafat yang
membahas tentang teori nilai adalah aksiologis, sehingga perspektif aksiologis
ini berupaya melihat nilai agama dan lain yang berbeda. Agama menurut pandangan
Kertanegara mampu memberikan penjelasan secara rinci tentang berbagai hal yang
tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, sedemikian rupa agama juga memberikan
makna yang lebih tinggi dan saling melengkapi terhadap pandangan-pandangan
saintiffik dan filosofis.[11]
Peacocke dalam bukunya
Theology for a Scientific Age, melalui perspektif critical realism,
berpandangan bahwa tujuan sains adalah untuk melukiskan realita, namun
pelukisan tersebut mengizinkan adanya perubahan secara bertahap di dalam penerimaan
kebenaran teori-teori ilmiah. Dengan bahasa lain sains berusaha menggambarkan
realitas ini dengan rendah hati, karena harus selalu siap menerima kritikan
serta direvisi oleh teori lain yang lebih maju dan berkembang.
C.
Titik Singgung Agama
dan Sains.
Dalam buku Intimations
of Reality, Peacock mengambarkan sains dan agama sebagai suatu entitas yang
memiliki persamaan dan perbedaan, dan relasi diantara keduanya terjadi hanya
dalam tataran intelektual. Hal ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa
manusia pada saat ini sedang menjalani hidupnya dalam konteks lain. Artinya,
segala pola pikir dan tingkah laku manusia dalam hidupnya telah dikuasi oleh
cara pandang lain terhadap dunia.[12]
Kendatipun demikian,
pergulatan antara agama dan sains telah mewarnai sejarah kehidupan manusia.
Kasus eksekusi Gereja atas Galileo pada abad 19 dan perdebatan panjang antara
pendukung teori revolosi dan teori penciptaan menjadi bukti nyata betapa
konflik yang saling menegasikan telah mewarnai hubungan antara agama dan sains.
Untuk menghindari konflik antara keduanya, banyak kalangan sejak tahun 1990-an
telah mencari model hubungan yang paling sesuai. Gregory R. Peterson mencatat
beberapa lembaga, penerbitan, seminar dan konferensi yang diidentifikasi
sebagai upaya membangun model hubungan antara agama dan sains yang ideal dan
ramai di pasaran, seperti tulisan Ian G. Barbour lewat karyanya, Religion in
an Age of Science (1990), Nacey Murphy, Theology in the Age of
Scientific Reasoning (1990), Philip Hefner, The Human Factor (1993),
Arthur Peacock, Theology for a Scientific Age (1993), dan lainnya.
Secara individu tokoh lain adalah John F. Hougt (professor teologi di
universitas Georgetown) dan Willem B. Dress (professor di bidang filsafat sains
dan teknologi dalam perspektif Protestan Liberal di Universitas Twente
Belanda).
Semangat mengakurkan
antara agama dan sains ini telah memunculkan jurnal baru Zygon yang telah
banyak memuat artikel diseputar agama dan sains. Begitu pula di tahun 1998, The
Center for Theology and The Natural Science menyelenggarakan seminar dengan
tema “Science and The Spiritual Quest”, yang menghasilkan majalah Newsweek yang
terkenal dengan sebutan “Science Finds God”. Begitu pula Kelampok
Templeton Foundation dengan kekuatannya telah mampu menghimpun dana dalam
jumlah besar untuk mensponsori berbagai seminar, penelitian dan penerbitan
dalam bidang agama dan sains.
1. Model-Model Hubungan
antara Agama dan Sains
Sumber tulisan yang
berusaha mendiskripsikan tipologi hubungan antara agama dan sains selain
Barbour, Haught dan Dress, adalah tulisan Arthur Peacocke, The Science and Theology
in 20 Century (1981), Ted Oeters, Theology and Natural Science (1992) dan
Robert Russell, The Relevance of Tallish for the Theology and Science Dialogue
(2001).
Model atau tipologi
hubungan antara agama dan sains tersebut menurut Barbour adalah sebagai
berikut:
a. Model Konflik.
Model ini digunakan oleh tiga tokoh utama, yaitu Barbour, Haught dan
Drees. Model ini berpendirian bahwa agama dan sains adalah dua hal yang tidak
sekedar berbeda tapi sepenuhnya bertentangan. Karena itu, seseorang dalam waktu
bersamaan tidak mungkin dapat mendukung teori sains dan memegang keyakinan
agama, karena agama tidak bisa membuktikan kepercayaan dan pandangannya secara
jelas (straight forword), sedang sains mampu. Sebagaimana halnya agama mempercayai
Tuhan tidak perlu menunjukkan bukti kongkrit keberadaannya, sebaliknya sains
manuntut pembuktian semua hipotesis dan teori dengan kenyataan. Keduanya dianut
oleh kelompok biblical literalism, dan kelompok scientific materialis.
b. Model Independen.
Model ini berpendirian bahwa agama dan sains memiliki persoalan, wilayah
dan metode yang berbeda, dan masing-masing memiliki kebenarannya sendiri sehingga
tidak perlu ada hubungan, kerjasama atau konflik antara keduanya. Keduanya
harus dipisahkan (compartmentalized) untuk bekerja dalam wilayahnya
masing-masing. Argumentasi model ini diantaranya dikemukakan oleh Langdan
Gilhey, bahwa sains berusaha menjelaskan data obyektif, umum, dan
berulang-ulang, sementara agama berbicara tentang masalah eksistensi tatanan
dan keindahan dunia dan pengalaman seseorang seperti pengampunan, makna, kepercayaan,
keelamatan dan lain sebagainya. Tujuan model ini adalah untuk menghindari
konflik antara keduanya dan sebagai konsekuensi munculnya ilmu pengetahuan baru
(new knowledge) seperti penjelasan biologis atas organisme organ.
c. Model Dialog (contact).
Model ini bermaksud mencari persamaan atau perbandingan secara metodis
dan konseptual antara agama dan sains, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan
antara keduanya. Upaya ini dilakukan dengan cara mencari konsep dalam agama
yang analog, serupa atau sebanding dengan konsep dalam sains atau sebaliknya.
Suatu model yang berbeda dengan model kedua yang menekankan perbedaan ansich.
Menurut Barbour, kesamaan antara keduanya bisa terjadi dalam dua hal, kesamaan
metodologis dan kesamaan konsep. Kesamaan metodologis terjadi, misalnya, dalam
hal sains tidak sepenuhnya obyektif sebagaimana agama tidak sepenuhnya
subyektif. Secara metodologis, tidak ada perbedaan yang absolut antara agama
dan sains, karena data ilmiah sebagai dasar sain yang dianggap sebagai wujud
obyektifitas, sebenarnya juga melibatkan unsure- unsure subyektifitas. Lebih
dari itu, subyektifitas sains terjadi pada asumsi teoritis yang digunakan dalam
proses seleksi, penafsiran data dan pelaporan. Barbour bahkan menambahkan bahwa
persamaan metodologis ini terletak pada prinsip hubungan antara teori dan
pengalaman, yang meminjam bahasa Polkinghorne: each is corrigible, having to
relate theory to experience, and each is essentially concerned with entities
whose unpictureable reality is more subtle than that of naïve objectivity. Tujuan
model ini adalah agar agama dan sains dapat saling memperluas wawasan dan
pengetahuan tentang alam, sebagaimana dijelaskan oleh Haught: The contact
approach looks for an open-ended conversation between scientist and
theologians. The term contact implies coming together without necessary fusing.
It allows for interaction, dialogue, and mutual impact but forbids both
conflation and segregation. It insist on preserving differences, but also
cherishes relationship.
d. Model Integrasi (Confirmation)
Alternatif lain hubungan antara agama dan sains yang dipandang paling
ideal adalah model integrasi. Model ini berusaha mencari titik temu pada
masalah-masalah yang dianggap bertentangan antara keduanya. Contoh model ini
adalah pada bidang Natural Theology yang menyatakan bahwa bukti adanya desain
pada alam semesta membuktikan adanya Tuhan, sementara Drees menyodorkan sample
tentang konsep teologi evolusi ala Piere Teilhard da Chardin dan filsafat
proses Alfred N. Whitehead yang dianggap telah menghasilkan konsep metafisika
yang inklusif. Pada model ini posisi sains adalah memberikan konfirmasi
(memperkuat atau mendukung) keyakinan tentang Tuhan sebagai pencipta alam
semesta,
Kendati Haught mengingatkan agar agamawan tidak membiarkan agama
terlibat (intrude) dalam kerja-kerja aktual sains (the actual work of
science). Lebih dari itu, posisi agama menurut Haught lebih sebagai akar
epistemologis bagi penemuan ilmiah. Dengan demikian agama memberikan dasar bagi
keyakinan saintis akan adanya rasionalitas dalam sains.[13]
[1] H. Endang Saifuddin Anshari, M. A. Ilmu Filsafat dan Agama,
Surabaya: 1993,p. 47
[2] Drs. A. Susanto, M.Pd. Filsafat Ilmu, Jakarta: 2010,p. 122-123
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir Filsafat Ilmu, Bandung: 2010,p. 24- 25
[4] Diadopsi dari junal oleh Nuraini Mahasiswi Universitas Muhammadiyah
Ponorogo,p 7- 8
[5] Drs. A. Susanto, M.Pd. Filsafat Ilmu, Jakarta: 2010,p. 125
[6] Diadopsi dari jurnal oleh Nuraini Mahasiswi Universitas Muhammadiyah
Ponorogo,p 4
[7]Drs. A, Susanto, M. Pd. Filsafat
Ilmu. Jakarta: 2010,p 128- 129
[12] Arthur Peacocke, Path From Science toward God,(Oxford:
One world, 2002), 12. Dalam jurnal Model-model Relasi Agama dan Sains
Comments
Post a Comment